Bismillahirrohmanirrokhim
Islam merupakan agama yang mengatur kehidupan manusia
berdasarkan fitrahnya, oleh karenanya islam memahami dengan baik apa yang
sejatinya dibutuhkan oleh manusia sebab islam bukanlah karangan manusia, ianya
merupakan petunjuk dan hasil karya dari sang khaliq Allah SWT. Termasuk perkara
iman. Islam merupakan pedoman hidup bagi manusia yang ingin menemukan kebenaran
yang sesungguhnya, meskipun islam sendiri tidak pernah memaksa manusia manapun
untuk memeluk agama ini, sama sekali tidak
ada paksaan. Namun demikian segala sesuatu pasti ada konsekwensinya. Bagaimana
bisa? Orang yang memeluk agama islam sebagai keyakinannya disebut sebagai
muslim, sebaliknya mereka yang ingkar terhadap
kebenaran islam maka Allah SWT menyebutnya sebagai kafir. Kafir adalah
mereka yang mengambil selain Allah sebagai sesembahannya. Ini adalah salah satu
konsep di dalam islam. Seseorang yang telah mengambil islam sebagai jalan
hidupnya melalui ikrar dua kalimat syahadat bahwa dia bersaksi tiada illah/
sesembahan selain Allah dan nabi muhammad adalah utusan Allah, maka sebagai
konsekuensinya dia harus mengikuti syariat islam sebagai hukum yang Allah buat,
baik dia suka maupun tidak suka, siap ataupun tidak siap, wajib untuk diikuti. Seorang muslim harus memahami betul hal ini,
sebagai landasan awal baginya dalam menempuh kebenaran hakiki. Jika sebelumnya
sudah dibahas bahwa keberadaan tuhan itu
telah dapat dibuktikan, bahwa
keberadaannya adalah suatu hal yang bersifat wajibul wujud atau sudah
semestinya ia ada, dan sifatnya azali dimana ia tidak berawal dan tidak
berakhir, maka PR selanjutnya bagi seseorang yang ingin menemukan tuhan yang
tepat tersebut adalah dengan kembali melakukan analisa menggunakan akalnya.
Mengapa akal lagi-lagi menjadi suatu hal yang penting dalam membimbing keimanan
seseorang? Sebab itulah pembeda manusia dengan makhluk lainnya. Dia bukan
binatang, bukan tumbuhan, melainkan dia manusia dikarenakan akalnya. Akal menunjukan
kualitas individu. Orang yang wujudnya manusia tetapi telah hilang akalnya, dia
tak ubahnya binatang yang hidup hanya mengandalkan nafsunya semata. Contohnya
orang gila. Karena akalnya, seseorang bisa dibedakan apakah dia seorang yang
briliant atau sebaliknya orang yang tidak waras alias gila. Oleh karenanya
kedudukan akal menjadi hal yang penting bagi manusia. Allah mengaruniakan akal
supaya ia mempergunakannya untuk berfikir. Berfikir tentang tujuan dari
penciptaannya, berpikir tentang kebesarannya, berpikir tentang hakikat
hidupnya, sehingga dengan demikian ia dapat mengenali tuhannya sekaligus ia
dapat beroleh keselamatan dunia akhirat. Didalam islam akal manusia
diperhitungkan, sebagaimana dapat kita jumpai berkali-kali dalam al-quran di
ulang bahwa kedudukan akal teramat penting lagi diperhitungkan. Dikatakan di dalam al-quran bahwa tidak akan
mampu seseorang mengambil pelajaran jika ia tidak mempergunakan akalnya, sesungguhnya
terdapat tanda-tanda bagi orang yang berfikir,
kebanyakan mereka tidak memikirkannya, dan lain sebagaianya. Silahkan cek ayatnya
didalam al-quran surat Ali imran (3) 190, Ar-rum (30) ayat 22, Al-ghasyiyah
(88) ayat 17-20, At-thariq (86) ayat5-7Al-baqarah (2) ayat 164.
Seseorang yang kehilangan akalnya, maka Allah mengangkat
penaNya terhadapnya. Apa ini artinya? Artinya bahwa Allah tidak memperhitungkan
amalan seseorang yang sedang kehilangan akalnya sampai ia kembali dalam
kesadarannya. Misalnya hamba allah yang belum akil baligh, dimana dia belum
mampu berpikir secara sempurna sehingga belum mampu membedakan mana yang baik
dan mana yang buruk seperti anak-anak, kemudian orang gila yang kehilangan
kendali terhadap dirinya disebabkan hilang akal dan kewarasannya yang mana dia
pun tidak mampu membedakan baik dan buruk, selanjutnya orang yang pingsan atau
tidur, dan lain sebagainya. Orang-orang ini adalah mereka yang kehilangan akal
dan kemampuan berpikirnya, baik bersifat sementara ataupun permanen, yang
dengan perkataan lain pada kondisi tersebut mereka tidak mampu memahami hukum
Allah. Bagaimana dia dapat menjalankan hukum Allah jika dia sendiri tidak mampu
membedakan antara yang baik dan yang buruk. Sehingga apa yang dilakukan orang
ini kebaikan dan keburukannya tidak dihitung dihadapan Allah, tidak diberi
pahala dan tidak pula terkena dosa. Akan tetapi satu hal yang juga harus
diingat, bahwa kondisi yang dialami seseorang yang hilang kesadaran ini adalah
kondisi yang diluar kehendak manusia tersebut, artinya bukan dikarenakan unsur
kesengajaan untuk menghilangkan akal. Sebab didalam islam, akal harus dijaga
dengan baik, oleh karenanyalah salah satu penyebab mengapa meminum minuman
khamr atau memabukkan diharamkan didalam islam, selain dikarenakan haram secara
zat nya, sebab ia dapat menghilangkan akal seseorang sehingga dapat membuatnya
melupakan Allah dan ia tidak dapat menjalankan syariat islam.
Kembali kepada persoalan menemukan tuhan yang tepat. Pada
tulisan sebelumnya mengenai eksistensi tuhan, telah disampaikan tuhan itu ada,
yang artinya jika ada yang menganggap tuhan itu tidak ada sebagaimana disampaikan
oleh orang-orang atheis, maka hal itu tertolak, batil, sesat, tidak masuk akal.
Orang yang tidak meyakini keberadaan tuhan sejatinya dia telah menuhankan hawa
nafsunya, persangkaannya semata, atau menuhankan akalnya yang menganggap
pengetahuannya yang paling tepat. Meskipun hal ini sudah terpatahkan. Akal, walaupun
berkali-kali ditegaskan bahwa ia adalah salah satu instrumen dalam beriman,
dalam berakidah, yang penting perannya, namun akal manusia tetap sifatnya
terbatas sebagaimana manusia itu sediri sebagai makhluk yang lemah, kalau dibandingkan dengan pengetahuan tuhan,
akal manusia itu tidak ada artinya, artinya jauh dibawah pengetahuan tuhan.
Sehingga wajar sekali kalau akal manusia pada suatu waktu tidak mampu
menjangkau apa yang tuhan tetapkan.
Ingat, tidak terjangkau akal berbeda dengan tidak masuk akal. Harus bisa
membedakan dengan baik. Tidak terjangkau akal berarti bersesuaian dengan cara
berpikir akal atau logika berpikir, hanya saja karena akalnya terbatas maka
dalam memahaminya pun tidak dapat dijelaskan dengan baik oleh akal tersebut. Sedangkan
tidak masuk akal berarti dia bertolak belakang dengan logika berpikir,
menyalahi akal. Ketika sesuatu tidak terjangkau oleh akal, disinilah sebenarnya
logika memberikan ruang bagi keimanan. Contohnya adalah mengenai mukjizat.
Sesuatu yang sepertinya mustahil jika dipikirkan. Lalu bagaimana caranya
membedakan antara sesuatu yang diluar akal manusia dengan sesuatu yang tidak
terjangkau akal manusia? Keimananlah yang akan membimbing akal manusia, setelah
ia telah juga menggunakan akalnya untuk berpikir secara cemerlang. Ilmu Allah
teramat luas, meliputi yang terindera oleh manusia dan juga yang bersifat
ghaib. Tentunya sulit bagi akal manusia untuk mempelajari sesuatu yang ghaib
yang tidak dapat dilihatnya mengingat ilmunya yang terbatas. Oleh karenanya
menjadi hal yang sangat penting bagi keimanan muslim pertama kali adalah menghadirkan
keimanan tersebut melalui proses berpikir. Sebab ini akan berakibat pada tahap
selanjutnya dalam memahami kabar yang bersifat ghaib dari Allah SWT.kalau seseorang
sudah yakin, tentunya mudah baginya untuk menerima dan mempercayai kabar dari
Allah tentang hal-hal yang tidak dapat diinderanya. Misalnya saja tentang dalil
naqli dalam quran mengenai kehidupan akhirat, surga dan neraka, hari
penghisaban, dan lain sebagainya. Karena hal-hal seperti ini diluar kemampuan
manusia, maka yang menjadi pegangan adalah diawal kali seseorang menggunakan
akalnya dalam beriman. Baru setelah itu, ketika ia mempercayai dalil naqli
seperti peristiwa hari kiamat tersebut dia dianggap sudah menggunakan akalnya.
Meskipun dalil naqli itu memang diluar kemampuan akal, sebab landasan awal dia
beriman sudah tepat.
Orang-orang atheis sering bertanya, seperti apa wujud
Allah SWT itu? Bagaimana bisa megimani sesuatu yang tidak nampak penglihatan?
Jawabannya adalah mengapa tidak? Keberadaan Allah sudah jelas adanya
sebagaimana fakta yang saya paparkan sebelumnya. Analoginya adalah ketika
seseorang ditampar lalu dia merasakan sakit. lalu pertanyaannya apa benar sakit
itu ada kan tidak kelihatan? tentu anda akan menjawab ada, faktanya ketika
ditampar perasaan sakit itu bisa dirasakan meskipun tidak nampak. Kurang lebih
seperti ini memahami keberadaan Allah. Adapun mengenai wujudnya, kita tidak
diperintahkan untuk mengetahui wujud Allah. Apakah kita akan tetap menolak
keberadaan rasa sakit tersebut meskipun kita tidak mampu melihatnya? Tentu saja
tidak. Apa kita akan mengabaikan keberadaan Allah padahal kita saksikan
kebesaranNya melalui ciptaanNya. Bagi orang yang serius mencari kebenaran pasti
tidak akan mengambil langkah konyol tersebut. Kewajiban kita adalah mengimani
keberadaaNya. Dia itu ada dan berkuasa, tiada tandingannya. Tidak perlu
menerka-nerka bagaimana wujudnya, bagaimana tanganNya, wajahNya, dan lain
sebagainya, sebab ilmu kita yang amat sangat terbatas ini kalau tetap memaksa
menerka-nerka wujudNya bisa jadi kita justru terjatuh dalam lembah kesyirikan
yang akan menyesatkan kita.
