Go MINDy
We are Creative Design and Branding, We Also Give you Information About Design & Printing - We Build Your Branding & Design it -
- Showcase -
- THE - Go MINDy Blog YOU TAGLINE



Image result for sungai


Bismillahirrohmanirrokhim
Islam merupakan agama yang mengatur kehidupan manusia berdasarkan fitrahnya, oleh karenanya islam memahami dengan baik apa yang sejatinya dibutuhkan oleh manusia sebab islam bukanlah karangan manusia, ianya merupakan petunjuk dan hasil karya dari sang khaliq Allah SWT. Termasuk perkara iman. Islam merupakan pedoman hidup bagi manusia yang ingin menemukan kebenaran yang sesungguhnya, meskipun islam sendiri tidak pernah memaksa manusia manapun untuk memeluk agama ini,  sama sekali tidak ada paksaan. Namun demikian segala sesuatu pasti ada konsekwensinya. Bagaimana bisa? Orang yang memeluk agama islam sebagai keyakinannya disebut sebagai muslim, sebaliknya mereka yang ingkar terhadap  kebenaran islam maka Allah SWT menyebutnya sebagai kafir. Kafir adalah mereka yang mengambil selain Allah sebagai sesembahannya. Ini adalah salah satu konsep di dalam islam. Seseorang yang telah mengambil islam sebagai jalan hidupnya melalui ikrar dua kalimat syahadat bahwa dia bersaksi tiada illah/ sesembahan selain Allah dan nabi muhammad adalah utusan Allah, maka sebagai konsekuensinya dia harus mengikuti syariat islam sebagai hukum yang Allah buat, baik dia suka maupun tidak suka, siap ataupun tidak siap, wajib untuk diikuti.  Seorang muslim harus memahami betul hal ini, sebagai landasan awal baginya dalam menempuh kebenaran hakiki. Jika sebelumnya sudah dibahas  bahwa keberadaan tuhan itu telah dapat dibuktikan,  bahwa keberadaannya adalah suatu hal yang bersifat wajibul wujud atau sudah semestinya ia ada, dan sifatnya azali dimana ia tidak berawal dan tidak berakhir, maka PR selanjutnya bagi seseorang yang ingin menemukan tuhan yang tepat tersebut adalah dengan kembali melakukan analisa menggunakan akalnya. Mengapa akal lagi-lagi menjadi suatu hal yang penting dalam membimbing keimanan seseorang? Sebab itulah pembeda manusia dengan makhluk lainnya. Dia bukan binatang, bukan tumbuhan, melainkan dia manusia dikarenakan akalnya. Akal menunjukan kualitas individu. Orang yang wujudnya manusia tetapi telah hilang akalnya, dia tak ubahnya binatang yang hidup hanya mengandalkan nafsunya semata. Contohnya orang gila. Karena akalnya, seseorang bisa dibedakan apakah dia seorang yang briliant atau sebaliknya orang yang tidak waras alias gila. Oleh karenanya kedudukan akal menjadi hal yang penting bagi manusia. Allah mengaruniakan akal supaya ia mempergunakannya untuk berfikir. Berfikir tentang tujuan dari penciptaannya, berpikir tentang kebesarannya, berpikir tentang hakikat hidupnya, sehingga dengan demikian ia dapat mengenali tuhannya sekaligus ia dapat beroleh keselamatan dunia akhirat. Didalam islam akal manusia diperhitungkan, sebagaimana dapat kita jumpai berkali-kali dalam al-quran di ulang bahwa kedudukan akal teramat penting lagi diperhitungkan.  Dikatakan di dalam al-quran bahwa tidak akan mampu seseorang mengambil pelajaran jika ia tidak mempergunakan akalnya, sesungguhnya terdapat tanda-tanda bagi orang yang berfikir,  kebanyakan mereka tidak memikirkannya,  dan lain sebagaianya. Silahkan cek ayatnya didalam al-quran surat Ali imran (3) 190, Ar-rum (30) ayat 22, Al-ghasyiyah (88) ayat 17-20, At-thariq (86) ayat5-7Al-baqarah (2) ayat 164.
Seseorang yang kehilangan akalnya, maka Allah mengangkat penaNya terhadapnya. Apa ini artinya? Artinya bahwa Allah tidak memperhitungkan amalan seseorang yang sedang kehilangan akalnya sampai ia kembali dalam kesadarannya. Misalnya hamba allah yang belum akil baligh, dimana dia belum mampu berpikir secara sempurna sehingga belum mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk seperti anak-anak, kemudian orang gila yang kehilangan kendali terhadap dirinya disebabkan hilang akal dan kewarasannya yang mana dia pun tidak mampu membedakan baik dan buruk, selanjutnya orang yang pingsan atau tidur, dan lain sebagainya. Orang-orang ini adalah mereka yang kehilangan akal dan kemampuan berpikirnya, baik bersifat sementara ataupun permanen, yang dengan perkataan lain pada kondisi tersebut mereka tidak mampu memahami hukum Allah. Bagaimana dia dapat menjalankan hukum Allah jika dia sendiri tidak mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk. Sehingga apa yang dilakukan orang ini kebaikan dan keburukannya tidak dihitung dihadapan Allah, tidak diberi pahala dan tidak pula terkena dosa. Akan tetapi satu hal yang juga harus diingat, bahwa kondisi yang dialami seseorang yang hilang kesadaran ini adalah kondisi yang diluar kehendak manusia tersebut, artinya bukan dikarenakan unsur kesengajaan untuk menghilangkan akal. Sebab didalam islam, akal harus dijaga dengan baik, oleh karenanyalah salah satu penyebab mengapa meminum minuman khamr atau memabukkan diharamkan didalam islam, selain dikarenakan haram secara zat nya, sebab ia dapat menghilangkan akal seseorang sehingga dapat membuatnya melupakan Allah dan ia tidak dapat menjalankan syariat islam.
Kembali kepada persoalan menemukan tuhan yang tepat. Pada tulisan sebelumnya mengenai eksistensi tuhan, telah disampaikan tuhan itu ada, yang artinya jika ada yang menganggap tuhan itu tidak ada sebagaimana disampaikan oleh orang-orang atheis, maka hal itu tertolak, batil, sesat, tidak masuk akal. Orang yang tidak meyakini keberadaan tuhan sejatinya dia telah menuhankan hawa nafsunya, persangkaannya semata, atau menuhankan akalnya yang menganggap pengetahuannya yang paling tepat. Meskipun hal ini sudah terpatahkan. Akal, walaupun berkali-kali ditegaskan bahwa ia adalah salah satu instrumen dalam beriman, dalam berakidah, yang penting perannya, namun akal manusia tetap sifatnya terbatas sebagaimana manusia itu sediri sebagai makhluk yang lemah,  kalau dibandingkan dengan pengetahuan tuhan, akal manusia itu tidak ada artinya, artinya jauh dibawah pengetahuan tuhan. Sehingga wajar sekali kalau akal manusia pada suatu waktu tidak mampu menjangkau apa yang tuhan tetapkan.  Ingat, tidak terjangkau akal berbeda dengan tidak masuk akal. Harus bisa membedakan dengan baik. Tidak terjangkau akal berarti bersesuaian dengan cara berpikir akal atau logika berpikir, hanya saja karena akalnya terbatas maka dalam memahaminya pun tidak dapat dijelaskan dengan baik oleh akal tersebut. Sedangkan tidak masuk akal berarti dia bertolak belakang dengan logika berpikir, menyalahi akal. Ketika sesuatu tidak terjangkau oleh akal, disinilah sebenarnya logika memberikan ruang bagi keimanan. Contohnya adalah mengenai mukjizat. Sesuatu yang sepertinya mustahil jika dipikirkan. Lalu bagaimana caranya membedakan antara sesuatu yang diluar akal manusia dengan sesuatu yang tidak terjangkau akal manusia? Keimananlah yang akan membimbing akal manusia, setelah ia telah juga menggunakan akalnya untuk berpikir secara cemerlang. Ilmu Allah teramat luas, meliputi yang terindera oleh manusia dan juga yang bersifat ghaib. Tentunya sulit bagi akal manusia untuk mempelajari sesuatu yang ghaib yang tidak dapat dilihatnya mengingat ilmunya yang terbatas. Oleh karenanya menjadi hal yang sangat penting bagi keimanan muslim pertama kali adalah menghadirkan keimanan tersebut melalui proses berpikir. Sebab ini akan berakibat pada tahap selanjutnya dalam memahami kabar yang bersifat ghaib dari Allah SWT.kalau seseorang sudah yakin, tentunya mudah baginya untuk menerima dan mempercayai kabar dari Allah tentang hal-hal yang tidak dapat diinderanya. Misalnya saja tentang dalil naqli dalam quran mengenai kehidupan akhirat, surga dan neraka, hari penghisaban, dan lain sebagainya. Karena hal-hal seperti ini diluar kemampuan manusia, maka yang menjadi pegangan adalah diawal kali seseorang menggunakan akalnya dalam beriman. Baru setelah itu, ketika ia mempercayai dalil naqli seperti peristiwa hari kiamat tersebut dia dianggap sudah menggunakan akalnya. Meskipun dalil naqli itu memang diluar kemampuan akal, sebab landasan awal dia beriman sudah tepat.
Orang-orang atheis sering bertanya, seperti apa wujud Allah SWT itu? Bagaimana bisa megimani sesuatu yang tidak nampak penglihatan? Jawabannya adalah mengapa tidak? Keberadaan Allah sudah jelas adanya sebagaimana fakta yang saya paparkan sebelumnya. Analoginya adalah ketika seseorang ditampar lalu dia merasakan sakit. lalu pertanyaannya apa benar sakit itu ada kan tidak kelihatan? tentu anda akan menjawab ada, faktanya ketika ditampar perasaan sakit itu bisa dirasakan meskipun tidak nampak. Kurang lebih seperti ini memahami keberadaan Allah. Adapun mengenai wujudnya, kita tidak diperintahkan untuk mengetahui wujud Allah. Apakah kita akan tetap menolak keberadaan rasa sakit tersebut meskipun kita tidak mampu melihatnya? Tentu saja tidak. Apa kita akan mengabaikan keberadaan Allah padahal kita saksikan kebesaranNya melalui ciptaanNya. Bagi orang yang serius mencari kebenaran pasti tidak akan mengambil langkah konyol tersebut. Kewajiban kita adalah mengimani keberadaaNya. Dia itu ada dan berkuasa, tiada tandingannya. Tidak perlu menerka-nerka bagaimana wujudnya, bagaimana tanganNya, wajahNya, dan lain sebagainya, sebab ilmu kita yang amat sangat terbatas ini kalau tetap memaksa menerka-nerka wujudNya bisa jadi kita justru terjatuh dalam lembah kesyirikan yang akan menyesatkan kita.

road
Bismillahirrohmanirrokhim
Di zaman yang kian modern ini manusia dituntut senantiasa up to date terhadap perkembangan dunia. Dan kecanggihan teknologi yang kini dapat dijangkau oleh hampir seluruh elemen masyarakat sangat memungkinkan manusia menjadi mudah berubah. Artinya segala informasi dapat tersampaikan dengan cepat dan dengan cepat pula merubah persepsi atau pandangan setiap individu dalam menyikapi berbagai fenomena di kancah duniawi ini. Baik itu di bidang hiburan, politik, sosial, ekonomi, kesehatan, pendidikan , teknologi, ataupun isu-isu terhangat yang menjadi buah bibir dunia. Dengan demikian, sangatlah penting bagi setiap individu untuk memiliki sebuah pegangan, pedoman, yang dipegang erat olehnya agar ia tidak melebur kedalam larutan opini yang menyesatkan. Khususnya bagi kaum muslim, umat tertinggi yang memiliki kepribadian yang khas sebab ia bersumber dari al-qur’an dan sunnah. Terlebih lagi, saat ini media yang menguasai dunia kebanyakan adalah media-media kafir yang sangat membenci dan memusuhi islam sehingga seringkali menyebarkan tulisan/informasi yang tidak real dan cenderung menyudutkan islam, sehingga banyak opini sesat yang siap menyesatkan dan memecahbelah umat islam yang tujuan akhirnya adalah menghancurkan islam dan melenyapkannya dari muka bumi. Salah satu strategi menghancurkan islam pula ialah dengan memisahkan umat islam dari akidah islam. Akidah yang kedudukannya sangat penting dalam mengimani kebenaran islam merupakan suatu keharusan untuk dijaga bagi setiap muslim agar imannya tetap lurus. Ketika akidah seorang muslim lemah dan mudah diporak porandakan, bisa disaksikan keislamannyapun turut terombang-ambing bagaikan kapal yang terdampar ditengahlautan tanpa nahkoda ianya mudah terhanyut oleh hempasan badai yang menerpanya.
Jika pada kesempatan sebelumnya telah dibahas mengenai akidah, bahwa dalam proses menemukan akidah seseorang harus berpikir secara cemerlang dan harus mengaitkan segala sesuatunya dengan pencipta, dan hal ini merupakan hal yang logis, maka pada kesempatan kali ini akan dipaparkan mengenai eksistensi tuhan itu sendiri. Pada masa saat ini, tidak sedikit kita jumpai orang-orang yang terperosok dalam pemikiran batil yang menganggap tuhan itu tidak ada. Walhasil mereka menganggap agama pun sama sekali tidak penting. Apa yang terjadi dengan orang-orang ini? Apakah mereka adalah orang bodoh sehingga untuk memahami keberadaan tuhan saja mereka kesulitan? Pada kenyataannya tidak sedikit diantara mereka justru orang-orang berpendidikan, artinya bukan orang bodoh. Mereka adalah orang-orang yang berpikir mendalam. Yang artinya mereka belum berpikir cemerlang. Mudah-mudahan tulisan ini kelak bermanfaat bagi mereka yang mungkin dalam pencarian dan pembuktian eksistensi tuhan. Tuhan sebagaimana umat beragama meyakini, bahwa keberadaannya tidak diragukan, sebuah kekuatan diatas segalanya. Meskipun banyak pula yang masih keliru dalam menetapkan siapakah tuhan yang berhak disembah tersebut. Parahnya banyak orang yang mempunyai anggapan bahwa semua agama itu benar. Pernyataan ini merupakan sesuatu yang tidak logis. Mengapa demikian? Satu hal yang dipahami seluruh umat beragama, bahwa kehidupan ini, dunia ini, segalanya berasal dari pencipta yang sama. Meskipun ketika mendefinisikan lebih detil siapa pencipta tersebut dapat berbeda-beda menurut versi agama masing-masing. Agama memang ada banyak, tuhannya satu, tapi banyak versi. Meskipun banyak versi, namun pasti hanya ada 1 yang benar. Tidak mungkin semuanya benar, sebab produk atau ciptaan objeknya sama, karena kalau demikian berarti tuhan itu ada banyak. Jadi jika ingin menemukan versi mana yang benar, anda perlu berpikir cemerlang dan bahkan jika perlu membandingkan antar agama demi menemukan kebenaran sejati yang selanjutnya akan anda yakini. Seseorang mungkin saja terlahir dengan agama sebagaimana agama kedua orangtuanya, sebab dia belum bisa memilih. Tetapi jika ia telah dewasa, sudah dapat berpikir, seseorang seharusnya punya jawaban yang jelas mengapa ia memilih agama yang dijalaninya. Kecuali hidupnya sekedar ikut-ikutan. Tidak terkecuali bagi setiap muslim, jangan sampai tidak tahu alasannya berislam melainkan karena keturunan, karena dengan begini keislamannya hanya sekedar islam KTP yang akan mudah terpatahkan oleh ideologi-ideologi sesat. Orang yang mengatakan bahwa semua agama adalah benar, itu artinya keimanannya diragukan, apakah dia tidak yakin dengan tuhan yang telah dipilihnya, sebab membenarkan semua agama artinya beranggapan bahwa tuhan dari agama lain tersebut benar adanya. Dengan perkataan lain, tuhannya lebih dari satu, secara akal ini menjadi tidak logis. Itu artinya pula bahwa orang tersebut tidak konsisten dan telah berkhianat kepada tuhan yang diyakininya. Apalagi jika dia seorang muslim, jika dia beranggapan bahwa semua agama adalah benar maka bisa dikatakan bahwa dia telah musyrik, menyekutukan Allah. Bahkan kafir, karena telah menyalahi syahadat yang merupakan ikrar setiap muslim yang menyatakan bahwa tiada tuhan selain Allah. Naudzubillah.
Segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh akal terbagi menjadi tiga yaitu manusia, alam semesta, dan hidup. Tiga hal ini dapat diindera oleh manusia, artinya dapat diamati, dapat diteliti, dapat dipelajari. Tiga hal ini, manusia, alam semesta dan hidup sifatnya terbatas, lemah, serba kurang, saling membutuhkan. Contohnya manusia, manusia di dunia ini memiliki batas waktu artinya bahwa belum ditemukan manusia sedari nabi adam turun ke dunia yang masih hidup hingga saat ini. Setiap manusia mengalami kematian, bahkan manusia sangat lemah dan tidak dapat hidup sendiri, ia makhluk sosial yang membutuhkan bantuan dari orang lain. Hidup dan alam semesta juga bersifat terbatas. Alam yang terdiri dari planet, benda langit, lautan, pegunungan segalanya pun bersifat terbatas. Punya kelemahan. Matahari yang bersinar gagahnya di siang hari, lenyap tak nampak dimalam hari. Bumi ini bahkan nampak semakin renta bahkan ketika manusia semakn brutal merusak alam karena keserakahannya mengeksploitasi sumber daya alam, musibahpun terjadi dimana-mana, banjir, kebakaran hutan, pemanasan global. Ini tanda-tanda alam semesta pun bersifat lemah dan terbatas. Dapat mengalami kerusakan. Kesatuan dan himpunan dari segala sesuatu yang terbatas pasti terbatas pula sifatnya. Apabila kita saksikan segala sesuatunya bersifat terbatas, itu artinya hal-hal tersebut tidak bersifat azali. Azali artinya adalah bahwa sesuatu tersebut tidak berawal dan tidak berakhir. Kalau ketiga unsur tadi tidak bersifat azali, itu artinya unsur tersebut manusia, hidup, dan alam semesta memiliki keterbatasan. Itu artinya bahwa keberadaan sesuatu yang terbatas itu mestinya diciptakan oleh sesuatu yang tidak terbatas. Dia bersifat azali, tidak berawal dan tidak berakhir. Sesuatu yang tidak terbatas ini disebut sebagai Al -Khaliq atau pencipta.
Dalam memahami eksistensi al-khaliq ini, dapat dirumuskan melalui tiga hipotesa. Yang pertama adalah bahwa pencipta ada yang menciptakan, yang kedua pencipta tersebut menciptakan dirinya, dan yang terakhir bahwa ia bersifat azali dan wajib keberadaannya (wajibul wujud). Hipotesa yang pertama yang menyatakan bahwa Allah ada yang menciptakan tentunya merupakan sesuatu yang batil dan tidak masuk akal. Kalau Allah ada yang menciptakan, tentunya yang menciptakannyalah yang lebih pantas dianggap Tuhan karena itu artinya ia memiliki kekuatan yang lebih besar. Dengan demikian hipotesis ini tertolak. Kemudian yang kedua bahwa Allah menciptakan dirinya sendiri juga merupakan sesuatu yang batil, sebab kalau Allah menciptakan dirinya sendiri itu artinya ia sebagai pencipta sekaligus sebagai makhluk. Jika demikian maka sifatnya akan terbatas sebab dia berawal dan dapat pula berakhir. Dan hipotesis yang terakhir bahwa Allah bersifat azali yaitu bahwa ia tidak berawal dan tidak berakhir dan wajibul wujud bahwa keberadaannya adalah sesuatu yang pasti merupakan hipotesis yang paling tepat dan masuk akal. Keberadaannya sudah ada sebelum segala sesuatu yang diciptakannya, dia tidak menyerupai makhluknya sebab dia bukanlah ciptaan sekalipun jikalau itu diciptakan oleh dirinya sendiri. Keberadaan Allah adalah suatu yang wajib adanya sebab ia adalah pencipta. Dia tidak diciptakan yang artinya tidak memiliki awal dan oleh karenanya tidak memiliki akhir sebab sifatnya tidak terbatas. Segala sesuatu seperti yang bisa diamati oleh manusia yang berakal, pasti ada yang menciptakan. Segala sesuatu yang diciptakan tersebut/makhluk sifatnya lemah, memiliki kekurangan, terbatas, dan saling membutuhkan. Hal ini berbeda dengan khaliq/pencipta. Oleh karenanya siapapun yang berakal sesungguhnya dapat memahami dan membuktikan hakikat keberadaan sang khaliq melalui ciptaannya. Sebab apa? Manusia memiliki keterbatasan, dia hanya dapat mengamati apa yang bisa diinderanya, dan melibatkan akalnya untuk memahami. Sehingga untuk memahami keberadaan Allah pun cukup hanya dengan memperhatikan ciptaannya. Sebagai contoh adalah mengamati penciptaan alam semesta, bagaimana bumi ini dihamparkan, langit ini di tegakan tanpa tiang, atau bahkan dengan memperhatikan dirinya sendiri. Bagaimana Allah telah menciptakan manusia, aliran darahnya, detak jantungnya, dan lain sebagainya. Semua itu menggambarkan kebesaran Allah bahwa ia adalah sang khaliq yang azali dan wajibul wujud. Dengan begitulah islam mengajak manusia merenungi dan mengamati benda-benda atau apa yang ada di sekeliling manusia yang merupakan karya Allah alih-alih membahas sesuatu yang sifatnya ghaib yang tidak ada wujudnya dan tidak bisa dibuktikan dan tidak dapat diindera oleh manusia. Namun demikian, muncul suatu pertanyaan. Bukankah Allah itu juga ghaib atau tidak dapat diindera wujudnya, lalu apakah kalau demikian keberadaan Allah ada? Insyaallah pembahasan mengenai ini akan saya lanjutkan pada topik selanjutnya.


Bismillahirrohmanirrokhim...
Melanjutkan pembahasan pada halaqoh pertama mengenai bagaimana merubah perilaku individu dan membentuk karakter seorang muslim, pada pembahasan kali ini akan berusaha saya paparkan mengenai akidah. Sebagaimana telah disebutkan bahwa islam laksana sebuah bangunan yang berpondasikan akidah, menunjukan bahwa kedudukan dan peran akidah didalam islam teramat sangat penting. Keindahan sebuah bangunan, kemegahan, ataupun tinggi menjulangnya sebuah bangunan tidaklah akan bertahan dalam waktu yang lama terlebih manakala goncangan, badai, ataupun terpaan angin berhembus mengarah padanya, manakala pondasi bangunan tidak dibangun secara kokoh dan kuat. Ianya akan mudah goyah dan bahkan bisa runtuh seketika. Begitulah kiranya gambaran akidah bagi seorang muslim. Akidah menjadi landasan berpikir bagi setiap muslim dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan cabang. Jika sebelumnya telah dijelaskan bahwa akidah dapat diperoleh melalui suatu proses berpikir cemerlang yang melibatkan akal manusia, tentunya setiap manusia sesungguhnya memiliki kesempatan ataupun peluang yang sama untuk bisa menemukan kebenaran. Dimana kebenaran tersebut adalah kebenaran islam yang menuntunnya melalui jalan keimanan. Adapun dalam suatu proses berpikir cemerlang tersebut, seseorang harus bisa menemukan jawaban atau pemecahan masalah dari tiga rumusan masalah atau tiga pertanyaan besar yang merupakan problematika pokok dalam kehidupan ini. Problematika tersebut meliputi darimana kita berasal? Untuk apa kita didunia/tujuan hidup kita di dunia? Dan kemana kita setelah mati?. Diluar dari tiga permasalahan ini sesungguhnya apa yang dihadapi manusia adalah permasalahan cabang atau permasalah turunan yang apabila ia telah berhasil memecahkan problematika pokok tersebut niscaya dia dapat pula mengatasi berbagai permasalahan cabang. Lalu apa saja permasalahan cabang itu? Misalnya saja masalah ekonomi, kesehatan yang buruk/ penyakit yang mendera seseorang, gagal menikah misalnya, masalah hutang, perselisihan, bangkrut ketika mempunyai usaha, kehilangan/ kematian, dan lain sebagainya. Sekali lagi, permasalahan ini tidak akan ada artinya jika anda berhasil memecahkan problematika pokok tersebut.
Ketika seseorang sedang kebingungan mencari tau jati dirinya sebagai manusia, khususnya mereka yang tidak terpuaskan akan kehidupan duniawi, haus akan kedamaian dan ketenangan jiwa, atau sebaliknya ketika manusia mulai frustasi dengan peliknya problematika kehidupan, lelah dikejar oleh tuntutan duniawi, dari mulai gaya hidup hingga hingar bingar dunia yang melenakan, mengejar rupiah demi rupiah, mengumpulkan aset dan kekayaan material, memuaskan nafsu dari mulai urusan perut, sex, dan haus kekuasaan, ternyata semua itu membuatnya semakin terpuruk dan dilanda depresi berat, kian lama kian mencekik leher dan seolah kematian menjadi terasa lebih baik, manusia manusia ini pun mulai galau akan kehidupan yang dijalani. Siapa dirinya, tujuan hidupnya, pertanyaan semacam ini setiap saat meraung bagaikan demonstrasi rakyat kecil yang menuntut keadilan pada penguasa yang telah mengabaikan haknya. Tak kenal lelah sebelum terpenuhi segala harapan dan tujuan. Dan demikianlah islam hadir ditengah tengah manusia sebagai sistem aturan dari sang pencipta teruntuk ciptaannya yakni melalui surat cintanya Al-quran al karim yang dibawa oleh seorrang Rasul bernama Muhammad. Islam sebuah pedoman, sebuah solusi bagi problematika manusia. Namun demikan, bagi manusia yang tengah berusaha dalam pencarian terhadap kebenaran ini, tentu tidak serta merta mempercayai bahwa islam itu adalah pedoman yang benar, petunjuk yang dicarinya. Olehkarenanya, walaupun seorang bisa saja memperoleh keislaman melalui hidayah yang tidak disangka dan tidak terduga, amat sangat penting bagi setiap individu beserta para muslim untuk menggali dan memikirkan dengan benar bahkan bila perlu membuktikan kebenaran islam yakni melalui cara berpikir yang cemerlang. Sehingga bagi yang telah muslim pun keimanannya itu kokoh, akidahnya kuat, bukan sekedar islam KTP yang bahkan angin sepoi-sepoipun dapat menghempaskannya. Islam tidak takut untukdiuji kebenarannya karena nyatanya memang sudah teruji. Bahkan di dalam islam, manusia ditantang untuk berpikir. Menggunakan akalnya. Karena dengan berpikir, dia akan beriman. Tapi ingat, berpikir yang dimaksud adalah berpikir cemerlang, bukan berpikir dangkal atau sekedar mendalam.
Islam mampu memecahkan problematika pokok karena islam (1) aturan ataupun ajaran di dalam islam sesuai dengan fitrah manusia. Maksudnya adalah islam mampu memahami apa yang menjadi kebutuhan manusia. Manusia memiiki gharizah atau naluri yang apabila tidak diatur dengan baik maka akan menimbulkan permasalahan dan kekacauan. Misalnya saja soal hukum menikah di dalam islam, islam memahami bahwa setiap manusia memiliki nafsu dan keinginan terhadap lawan jenisnya/ apa yang disebut dengan kebutuhan batin/seksual, maka menikah didalam islam adalah merupakan sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah dan ia bernilai ibadah dan berpahala. Sehingga tidak mungkin islam melarang seseorang untuk menikah, yang ada adalah islam mengatur hukum nikah itu agar bisa dijalankan dengan sebaik-baiknya dan tidak menimbulkan kekacauan. Sehingga didalam islampun hak suami dan istri diatur dengan jelas. Inilah salahsatu fungsi dan peran islam sebagai pedoman dan panduan bertindak dalam kehidupan ini. Dan silahkan dibuktikan apakah aturan di dalam islam ini dapat menyelesaikan masalah atau tidak.
Yang selanjutnya adalah (2) islam memuaskan akal. Seperti yang kita ketahui bahwa yang membedakan manusia dari makhluk Allah lainnya adalah akalnya, dimana akalnya tersebut menjadikan penciptaan manusia itu paling sempurna. Orang yang berakal dan tidak berakal tentu sangat jauh berbeda segala tindak tanduk perbuatannya. Orang yang berakal artinya dia memfungsikan akalnya untuk berfikir sebelum melakukan tindakan, misalnya dia akan menimbang baik buruknya, manfaat dan kerugiannya, tujuan atau alasannya sebelum dia melakukan sesuatu. Segala sesuatunya dicari dahulu kebenarannya, apakah bisa diterima oleh akal atau tidak, logis atau tidak, sesuaikah dan lain sebagainya. Lain halnya dengan orang yang tidak menggunakan akalnya, perbuatannya cenderung sekedar ikut-ikutan, melakukan sesuatu yang tidak ada dasar atau landasan yang benar, asal-asalan, karena dia tidak memikirkan perbuatannya. Lihatlah orang gila, orang yang kehilangan akalnya. Orang yang tidak menggunakan akalnya hampir sama dengan orang yang kehilangan akal. Kondisinya pun bisa terliat jelas bedanya dengan yang menggunakan akalnya. Aturan di dalam islam tidak bertentangan dengan akal, justru menuntut seseorang menggunakan akalnya guna memahami aturan Allah swt, sebab didalam aturan yang Allah tetapkan pasti tersimpan tujuan atau hikmah tertentu yang terkadang bahkan akal manusia belum bisa menjangkau. Belum menjangkau bukan berarti tidak masuk akal. Sesuatu yang tidak masuk akal itu tidak bisa dicerna oleh akal/ tertolak akal, sedangkan tidak terjangkau akal dikarenakan ilmu manusia teramat terbatas apalagi  dibandingkan dengan ilmu Allah, ilmu Allah maha luas. Hal ini logis. Masuk di akal. Beberapa ilmu yang terdapat dalam al-quran telah terunggkap melalui ilmu pengetahuan yang bahkan diungkap oleh orang kafir, dan tidak sedkit diantara mereka yang takjub dengan al-quran kemudian memperoleh hidayah dan akhirnya memeluk agama islam. Inilah contoh berpikir islam. Namun demikian masih banyak lagi ilmu di dalam al-quran yang belum terungkap oleh kemampuan dan indera manusia dikarena keterbatasannya. Kemudian yang terakhir (3) islam memberikan ketentraman kedalam jiwa.  Ketentraman disini sebenarnya secara logis pasti dapat dirasakan manakala seseorang menerapkan syariat islam sebab islam terbukti dapat mengatur dan memuliakan manusia melalui aturannya. Sebagai contoh adalah aturan mengenakan jilbab. Melalui proses berpikir dan menganalisa tujuan jilbab diwajibkan terhadap para muslimah adalah agar dia terlindungi dan tidak diganggu, serta mudah untuk dikenali sebagaimana yang tertera dalam firman Allah QS. Al-ahzab ayat 59 merupakan sesuatu yang masuk akal. Adapun soal ketentraman, coba bandingkan dengan wanita yang memilih mengumbar auratnya dengan berpakaian seksi, reksi setiap orang yang melihat kedua jenis gaya berpakaian ini sangat berbeda jauh. Bahkan mereka yang berpakaian seksi lebih sering digoda dan bahkan dilecehkan  oleh para lelaki hidung belang. Sebaliknya mereka enggan menggoda muslimah yang menutup auratnya. Sehingga wanita yang berpakaian syar’i pun akan merasa aman dan dia lebih menjaga segala tindakannya, sebab jilbabnya bisa menjadi semacam alarm atau pengingat baginya untuk tunduk kepada perintahNya. Namun demikian bukan berarti  jilbab dan akhlaq merupakan sesuatu yang saling mempengaruhi. Ketika orang yang tidak berjilbab selalu lebih buruk akhlaqnya daripada yang berjilbab, atau yang berjilbab selalu lebih baik dari yang tidak berjilbab. Tidaklah demikian. Akan tetapi, jilbab dan akhlaq adalah dua hal yang sama-sama harus dijalankan berdasarkan ketentuanNya. Dan perlu diingat bahwa jilbab itu wajib hukumnya bagi setiap muslimah, mau dia sudah baik akhlaqnya ataupun masih buruk. Mau dia siap atau tidak. Tetap wajib hukumnya, dan yang meninggalkannya berdosa tanpa terkecuali.



Bismillahirrohmanirrokhim...
Dalam sebuah proses pembentukan individu yang berkarakter islami, atau sebuah proses perjalanan keimanan dan hijrah seorang hamba mengenali tuhannya, ada hal yang perlu untuk dipahami  agar proses tersebut dapat berjalan dengan baik. Hal tersebuat adalah apa yang menjadikan seseorang mengambil suatu jalan atau sikap dalam kehidupannya. Seseorang bertindak adalah menurut pemahamannya, dimana pemahamannya tersebut merupakan hasil dari pola fikir yang tertanam atau terbentuk dalam dirinya. Mengapa pola fikir menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dalam membentuk karakter yang baik? Sebab pola fikir yang terbentuk akan menentukan apakah dia akan selamat atau sebaliknya akan celaka. Apa yang dilakukan seseorang sejatinya menggambarkan bagaimana cara berpikirnya dan apa yang menancap didalam hatinya. Teko berisi kopi tentunya ketika dituangkan maka akan mengeluarkan kopi juga. Sesuatu yang menggerakan alam bawah sadar seseorang adalah sesuatu yang sudah tertancap kuat didalam fikirannya dan pemahaman didalam hatinya, sehingga apa yang diperbuatnya bahkan menjadi sesuatu yang bersifat spontanitas.  Spontanitas yang dimaksud adalah akumulasi dari segala tindakan yang akhirnya membentuk karakter seseorang. Seseorang yang sekali dua kali berbohong misalnya, ketika hal itu menjadi suatu kebiasaan maka jika awalnya ragu untuk melakukannya kian lama tanpa disadari dia berbohong setiap saat, hal ini jika berlangsung terus menerus maka akan menjadikanya individu yang pembohong. Adapun tindakannya ketika berbohong merupakan kegagalan caranya dalam berfikir soal kejujuran atau bahkan soal kebohongan itu sendiri. Misalkan, seseorang berbohong karena dia berfikir bahwa tidak ada yang tahu bahwa tindakannya itu adalah suatu kebohongan, sehingga dia pun tidak perlu merasa takut melakukannya. Artinya dia sesungguhnya sudah salah memahami bahwa tidak ada yang luput dari pengelihatan dan pengawasan Allah. Atau bisa jadi dia tahu bahwa Allah itu maha melihat, namun dia mengira dan tidak meyakini bahwa sesungguhnya suatu saat dia akan menghadap tuhannya dan mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Dia meragukan hari pembalasan. Sehingga yang terjadi adalah tindakan berbohong tersebut.
Cara berfikir seseorang dapat menyelamatkannya dan dapat pula menyesatkannya. Cara berfikir yang dapat mengantarkan seseorang menuju keselamatan adalah cara berfikir yang cemerlang. Bagaimanakah cara berfikir yang cemerlang? Secara garis besar cara berfikir seseorang dapat dikelompokan kedalam tiga golongan. Yang pertama adalah berfikir dangkal. Yaitu ketika seseorang menilai sesuatu hanya melihat dari kulit luarnya saja, kemudian menerimanya dan mengikutinya tanpa terlebih dahulu menganalisa kebenarannya. Dengan perkataan lain, akalnya tidak digunakan untuk menganalisa kebenarannya. Dia tidak berfikir apakah yang dilakukannya tersebut benar atau salah, yang dilakukannya adalah menuruti hawa nafsunya. Karena ingin melakukannya, karena suka, karena ikut-ikutan dan lain sebagainya. Cara berfikir yang kedua adalah cara berfikir mendalam. Pada tahap ini seseorang sudah menganalisa tentang fenomena yang dialaminya atau dihadapinya, sehingga dia berusaha mencari tahu, meneliti, dan membuktikan kebenarannya terlebih dahulu sebelum akhirnya mengakui, menerima, atau mengikuti suatu hal. Berfikir mendalam adalah sebagaimana yang dilakukan oleh para ilmuan semacam Albert Enstein dan kawan-kawannya. Mereka dapat membuktikan secara ilmiah apa yang ditelitinya. Namun sayangnya, berpikir mendalam ini belumlah dikatakan sempurna atau cemerlang. Sebab membuktikan sebatas keduniawian itu masih teramat sempit untuk memahami dan menemukan hakikat kebenaran sesungguhnya. Ketika penemuan-penemuan seseorang tidak dapat mengantarkannya pada sebuah pertanyaan “siapa dibalik semua ini?” maka ini bukanlah pemikiran yang cemerlang. Pemikiran cemerlang adalah suatu cara berfikir dimana pemikiran tersebut dilakukan secara menyeluruh, dan mampu mengkaitkan antara kehidupan sebelum dunia ini ada, kehidupan dunia, dan kehidupan sesudah dunia atau kehidupan akhirat. Sebagai contoh ketika seseorang mengagumi sebuah lukisan yang indah dia mengamati bagaimana lukisan ini bisa dibuat, dari bahan apa misalnya, dari mana inspirasinya, dan semestinya dia mempertanyakan siapa sih yang membuat lukisan ini? Alangkah hebatnya yang membuat lukisan ini, yang bisa menghadirkan keindahan dan ketakjuban mata yang melihat lukisan tersebut. Cara berfikir seperti inilah yang disebut dengan pemikiran yang cemerlang. Contoh lainnya misalnya setelah dia takjub bahwa mata itu adalah suatu organ tubuh manusia yang sangat hebat, amat canggih, bagaimana dia memproses apa yang ditangkap oleh lensa mata tersebut, bagaimana mata tersebut bekerja, dan para penemu-penemu telah dapat melihat keajaiban ini, namun baimana bisa mereka gagal menemukan tuhan? Pasti ada yang salah. Dan inilah pemikiran mendalam saja, bukan cemerlang. Pemikiran cemerlang slalu mengaitkan segala sesuatu yang terjadi dlam kehidupan ini dengan sang khaliq atau pencipta. Sebab segaa sesuatu msti ada yang membuatnya, ada yang menciptakan dan menjadikannya ada. Siapa lagi puncak atau sumber dari segala hal itu berasal jikalau bukan dari zat yang memiliki kekuasaan tertinggi, terhebat, jikalau bukan kekuasaan Tuhan.
Islam dibangun diatas pondasi berupa akidah,  dalam merubah perilaku atau membentuk karakter seseorang akidah sangat penting untuk dikuatkan. Laksana sbuah pondasi dalam sebuah bangunan, jika ia semakin kuat maka bangunan diatasnya akan menancap kuat dan tidak mudah goyah bahkan ketika diterpa berbagai cobaan. Begitu pula halnya dengan peran akidah dalam keislaman seorang muslim ataupun bagi manusia siapapun yang hendak menemukan suatu kebenaran hakiki.  Melalui cara berpikir yang cemerlang ini sesungguhnya merupakan suatu langkah untuk dapat memunculkan akidah islam. Lalu bagaimana cara menemukan akidah melalui cara berpikir cemerlang? Secara garis besar problematika dalam kehidupan ini terbagi atas dua permasalahan, yakni permasalahan pokok/utama dan permasalahan cabang atau turunan. Permasalahan cabang adalah turunan dari permasalahan pokok, yang dengan perkataan lain apabila seseorang dapat mengatasi permasalahan pokok atau utama maka bsa dipastikan bahwa permasalahan cabang bukanlah kendala berarti untuk dipecahkan. Ibarat dalam suatu permainan catur jika berhasil mengalahkan sang raja (skakmat) maka anak buah lainnya dalam genggaman dan sudah tidak ada artinya lagi. Lalu apa saja permasalahan pokok dalam kehidupan ini? Permasalahan tersebut dirumuskan dalam tiga pertanyaan besar yang apabila seseorang telah mampu menjawabnya dengan baik maka bisa dikatakan bahwa ia telah menemukan jalan keimanan. Pertanyaan tersebut diantaranya adalah (1) dari mana ia berasal? (2) untuk apa hidupnya di dunia? Dan (3) kemana dia setelah mati?. Inilah diantara permasalahan yang harus bisa dipecahkan setiap manusia yang ingin menemukan kebenaran. Lalu bagaimanakah jawaban yang benar? Insyaallah akan disambung pada kesempatan selanjutnya...



Memaknai hakikat kehidupan merupakan suatu hal yang tidak mudah bagi setiap individu. Berbagai kepentingan dan kebutuhan duniawi terkadang melalaikan kita dari memaknai hal-hal penting dalam kehidupan ini. Dari kesenangan hingga kesedihan bukan lagi menjadi sesuatu yang baru bagi manusia, namun selalu menyita perhatian seseorang dan membuatnya larut didalamnya tanpa meningalkan makna bagi dirinya. Padahal, dalam kehidupan ini sejatinya tidak ada yang terjadi begitu saja tanpa adanya suatu maksud. Apalagi jika dianggap apa yang terjadi sebagai sekedar kebetulan. Benarkah apa yang terjadi dalam kehidupan ini adalah suatu kebetulan belaka? Namun, jika kita sekilas menggunakan nalar dan logika kita, andaikata kita punya kesempatan kembali ke masa lalu dan merubah sesuatu hal, hal yang sangat kecil sekalipun apakah hal itu tidak akan memberikan perubahan bagi masa depan? Apakah perubahan yang kita lakukan tersebut akan merubah alur cerita kehidupan yang sudah terjadi sebelumnya? Misalkan saja, kita suatu waktu terlambat pergi ke kantor atau ke sekolah karena bangun kesiangan. Akhirnya semenit sebelum kita sampai di stasiun, kereta sudah berangkat. Ketika kita berkesempatan kembali ke masa itu, kita mencoba untuk bangun tepat waktu dan olehkarenanya kita bisa berangkat lebih awal. Kemudian tidak tertinggal kereta. Artinya disana kita merubah waktu bangun kita, hal itu mempengaruhi hal-hal yang terjadi selanjutnya, dan terus berpengaruh pada hal lainnya. Tapi ternyata ketika kita tidak terlambat dan tidak tertinggal kereta, kereta sepuluh menit kemudian justru mengalami kecelakaan. Setelah terjadi seperti itu, kita barulah bisa menyadari bahwa bahkan untuk sesuatu hal yang mungkin sangat sepele dan menyebalkan seperti terlambat bangun pada cerita diatas, sebenarnya ada maksud tersendiri maksud yang mungkin tersembunyi dan hanya bisa disadari atau dimaknai oleh orang-orang yang memang punya keyakinan bahwa dalam kehidupan ini sebenarnya kita sedang melakoni skenario Tuhan.  Artinya segala sesuatu telah diatur olehNya. Tidak ada hal yang kebetulan. Dan itu adalah bahasa hikmah yang tidak semua orang memahami, karena hal tersebut merupakan perkara gaib bukan sesuatu yang bisa diamati atau diteliti dengan ilmu yang pasti. Tentu saja dalam menjalani kehidupan ini, jikalau kita bisa bayangkan sekian juta manusia hidup punya cerita masing-masing, sebab masing-masing punya kebutuhan, selera, gaya hidup, kekurangan dan kelebihan, status, peran, dan banyak aspek yang berbeda satu dengan lainnya. Dimana semua hal tersebut setiap detik berinteraksi satu sama lain, ada milyaran trilyunan hal yang mungkin terjadi dalam setiap detiknya, artinya ada milyaran dan trilyunan kemungkinan hidup pula yang bisa menimpa setiap individu. Coba bayangkan, bagaimana semua itu terjadi, padahal setiap individu punya kesempatan  dan kedudukan yang sama dimata Tuhan. Tidak ada yang disepelekan oleh Tuhan. Setiap kebaikan atau keburukan setiap individu diperhitungkan, lalu bagaimana itu semua terjadi? Apakah kita hidup dalam sebuah spekulasi? Untung untungan belaka? Kalau memang hidup itu untung-untungan dan tentunya jika berdasarkan pada fakta yang saya gambarkan diatas memang terlihat untung-untungan, maka hal itu merupakan sesuatu yang sangat tidak adil. Bisa-bisa ada oang yang nasibnya malang sepanjang waktu atau mungkin juga ada yang hidupnya selalu untung. Apakah hidup seperti itu? Sangat tidak adil tentunya. Oleh karenanya, pasti ada kekuatan yang mengontrol segala hal yang terjadi tersebut. Dia adalah sang pengatur, sang sutradara yang telah menentukan bagaimana alur kehidupan ini. Bisa kita bayangkan bagaimana maha dahsyatnya kemampuan yang mengatur trilyunan peristiwa itu, betapa telitinya.. Allahu Akbar... dialah Allah the Planner... The creator.

Entri Populer

Jago Desain Creative Design And Branding
About Us
x
- WHO AM I ? - Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, WANT TO KNOW MORE ABOUT ME ?SCROLL DOWN
A LOREM IPSUM DOLOR
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.
The Story of MeI already know the world of graphic design since 2012 and has studied since the beginning of 2013, when it was first introduced graphic design I am very happy and excited to learn I feel this is where my passion. It is very difficult for me to learn graphic design because I am a autodidact not there are teachers who guide and teach me, though only armed with science and tutorials of other graphic designers on the internet I can attest that the quality of my design is same as the graphic designer who studied in college, although unsuccessful I will continue to try and try again.Download My Resume PDF
- SPECIALIST SERVICE - Graphic DesignPrint DesignPackaging DesignLabeling DesignLayout DesignTypographicInfographicVector DesignPoster DesignWeb DesignShirt Designlogo & Stationery DesignID Card DesignInvitation Design
- My Skills -
HTML/CSS
Jquery/PHP
Photoshop
CorelDRAW
Illustrator