
Bismillahirrohmanirrokhim
Di zaman yang kian modern ini manusia dituntut senantiasa up to date terhadap perkembangan dunia. Dan kecanggihan teknologi yang kini dapat dijangkau oleh hampir seluruh elemen masyarakat sangat memungkinkan manusia menjadi mudah berubah. Artinya segala informasi dapat tersampaikan dengan cepat dan dengan cepat pula merubah persepsi atau pandangan setiap individu dalam menyikapi berbagai fenomena di kancah duniawi ini. Baik itu di bidang hiburan, politik, sosial, ekonomi, kesehatan, pendidikan , teknologi, ataupun isu-isu terhangat yang menjadi buah bibir dunia. Dengan demikian, sangatlah penting bagi setiap individu untuk memiliki sebuah pegangan, pedoman, yang dipegang erat olehnya agar ia tidak melebur kedalam larutan opini yang menyesatkan. Khususnya bagi kaum muslim, umat tertinggi yang memiliki kepribadian yang khas sebab ia bersumber dari al-qur’an dan sunnah. Terlebih lagi, saat ini media yang menguasai dunia kebanyakan adalah media-media kafir yang sangat membenci dan memusuhi islam sehingga seringkali menyebarkan tulisan/informasi yang tidak real dan cenderung menyudutkan islam, sehingga banyak opini sesat yang siap menyesatkan dan memecahbelah umat islam yang tujuan akhirnya adalah menghancurkan islam dan melenyapkannya dari muka bumi. Salah satu strategi menghancurkan islam pula ialah dengan memisahkan umat islam dari akidah islam. Akidah yang kedudukannya sangat penting dalam mengimani kebenaran islam merupakan suatu keharusan untuk dijaga bagi setiap muslim agar imannya tetap lurus. Ketika akidah seorang muslim lemah dan mudah diporak porandakan, bisa disaksikan keislamannyapun turut terombang-ambing bagaikan kapal yang terdampar ditengahlautan tanpa nahkoda ianya mudah terhanyut oleh hempasan badai yang menerpanya.
Jika pada kesempatan sebelumnya telah dibahas mengenai akidah, bahwa dalam proses menemukan akidah seseorang harus berpikir secara cemerlang dan harus mengaitkan segala sesuatunya dengan pencipta, dan hal ini merupakan hal yang logis, maka pada kesempatan kali ini akan dipaparkan mengenai eksistensi tuhan itu sendiri. Pada masa saat ini, tidak sedikit kita jumpai orang-orang yang terperosok dalam pemikiran batil yang menganggap tuhan itu tidak ada. Walhasil mereka menganggap agama pun sama sekali tidak penting. Apa yang terjadi dengan orang-orang ini? Apakah mereka adalah orang bodoh sehingga untuk memahami keberadaan tuhan saja mereka kesulitan? Pada kenyataannya tidak sedikit diantara mereka justru orang-orang berpendidikan, artinya bukan orang bodoh. Mereka adalah orang-orang yang berpikir mendalam. Yang artinya mereka belum berpikir cemerlang. Mudah-mudahan tulisan ini kelak bermanfaat bagi mereka yang mungkin dalam pencarian dan pembuktian eksistensi tuhan. Tuhan sebagaimana umat beragama meyakini, bahwa keberadaannya tidak diragukan, sebuah kekuatan diatas segalanya. Meskipun banyak pula yang masih keliru dalam menetapkan siapakah tuhan yang berhak disembah tersebut. Parahnya banyak orang yang mempunyai anggapan bahwa semua agama itu benar. Pernyataan ini merupakan sesuatu yang tidak logis. Mengapa demikian? Satu hal yang dipahami seluruh umat beragama, bahwa kehidupan ini, dunia ini, segalanya berasal dari pencipta yang sama. Meskipun ketika mendefinisikan lebih detil siapa pencipta tersebut dapat berbeda-beda menurut versi agama masing-masing. Agama memang ada banyak, tuhannya satu, tapi banyak versi. Meskipun banyak versi, namun pasti hanya ada 1 yang benar. Tidak mungkin semuanya benar, sebab produk atau ciptaan objeknya sama, karena kalau demikian berarti tuhan itu ada banyak. Jadi jika ingin menemukan versi mana yang benar, anda perlu berpikir cemerlang dan bahkan jika perlu membandingkan antar agama demi menemukan kebenaran sejati yang selanjutnya akan anda yakini. Seseorang mungkin saja terlahir dengan agama sebagaimana agama kedua orangtuanya, sebab dia belum bisa memilih. Tetapi jika ia telah dewasa, sudah dapat berpikir, seseorang seharusnya punya jawaban yang jelas mengapa ia memilih agama yang dijalaninya. Kecuali hidupnya sekedar ikut-ikutan. Tidak terkecuali bagi setiap muslim, jangan sampai tidak tahu alasannya berislam melainkan karena keturunan, karena dengan begini keislamannya hanya sekedar islam KTP yang akan mudah terpatahkan oleh ideologi-ideologi sesat. Orang yang mengatakan bahwa semua agama adalah benar, itu artinya keimanannya diragukan, apakah dia tidak yakin dengan tuhan yang telah dipilihnya, sebab membenarkan semua agama artinya beranggapan bahwa tuhan dari agama lain tersebut benar adanya. Dengan perkataan lain, tuhannya lebih dari satu, secara akal ini menjadi tidak logis. Itu artinya pula bahwa orang tersebut tidak konsisten dan telah berkhianat kepada tuhan yang diyakininya. Apalagi jika dia seorang muslim, jika dia beranggapan bahwa semua agama adalah benar maka bisa dikatakan bahwa dia telah musyrik, menyekutukan Allah. Bahkan kafir, karena telah menyalahi syahadat yang merupakan ikrar setiap muslim yang menyatakan bahwa tiada tuhan selain Allah. Naudzubillah.
Segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh akal terbagi menjadi tiga yaitu manusia, alam semesta, dan hidup. Tiga hal ini dapat diindera oleh manusia, artinya dapat diamati, dapat diteliti, dapat dipelajari. Tiga hal ini, manusia, alam semesta dan hidup sifatnya terbatas, lemah, serba kurang, saling membutuhkan. Contohnya manusia, manusia di dunia ini memiliki batas waktu artinya bahwa belum ditemukan manusia sedari nabi adam turun ke dunia yang masih hidup hingga saat ini. Setiap manusia mengalami kematian, bahkan manusia sangat lemah dan tidak dapat hidup sendiri, ia makhluk sosial yang membutuhkan bantuan dari orang lain. Hidup dan alam semesta juga bersifat terbatas. Alam yang terdiri dari planet, benda langit, lautan, pegunungan segalanya pun bersifat terbatas. Punya kelemahan. Matahari yang bersinar gagahnya di siang hari, lenyap tak nampak dimalam hari. Bumi ini bahkan nampak semakin renta bahkan ketika manusia semakn brutal merusak alam karena keserakahannya mengeksploitasi sumber daya alam, musibahpun terjadi dimana-mana, banjir, kebakaran hutan, pemanasan global. Ini tanda-tanda alam semesta pun bersifat lemah dan terbatas. Dapat mengalami kerusakan. Kesatuan dan himpunan dari segala sesuatu yang terbatas pasti terbatas pula sifatnya. Apabila kita saksikan segala sesuatunya bersifat terbatas, itu artinya hal-hal tersebut tidak bersifat azali. Azali artinya adalah bahwa sesuatu tersebut tidak berawal dan tidak berakhir. Kalau ketiga unsur tadi tidak bersifat azali, itu artinya unsur tersebut manusia, hidup, dan alam semesta memiliki keterbatasan. Itu artinya bahwa keberadaan sesuatu yang terbatas itu mestinya diciptakan oleh sesuatu yang tidak terbatas. Dia bersifat azali, tidak berawal dan tidak berakhir. Sesuatu yang tidak terbatas ini disebut sebagai Al -Khaliq atau pencipta.
Dalam memahami eksistensi al-khaliq ini, dapat dirumuskan melalui tiga hipotesa. Yang pertama adalah bahwa pencipta ada yang menciptakan, yang kedua pencipta tersebut menciptakan dirinya, dan yang terakhir bahwa ia bersifat azali dan wajib keberadaannya (wajibul wujud). Hipotesa yang pertama yang menyatakan bahwa Allah ada yang menciptakan tentunya merupakan sesuatu yang batil dan tidak masuk akal. Kalau Allah ada yang menciptakan, tentunya yang menciptakannyalah yang lebih pantas dianggap Tuhan karena itu artinya ia memiliki kekuatan yang lebih besar. Dengan demikian hipotesis ini tertolak. Kemudian yang kedua bahwa Allah menciptakan dirinya sendiri juga merupakan sesuatu yang batil, sebab kalau Allah menciptakan dirinya sendiri itu artinya ia sebagai pencipta sekaligus sebagai makhluk. Jika demikian maka sifatnya akan terbatas sebab dia berawal dan dapat pula berakhir. Dan hipotesis yang terakhir bahwa Allah bersifat azali yaitu bahwa ia tidak berawal dan tidak berakhir dan wajibul wujud bahwa keberadaannya adalah sesuatu yang pasti merupakan hipotesis yang paling tepat dan masuk akal. Keberadaannya sudah ada sebelum segala sesuatu yang diciptakannya, dia tidak menyerupai makhluknya sebab dia bukanlah ciptaan sekalipun jikalau itu diciptakan oleh dirinya sendiri. Keberadaan Allah adalah suatu yang wajib adanya sebab ia adalah pencipta. Dia tidak diciptakan yang artinya tidak memiliki awal dan oleh karenanya tidak memiliki akhir sebab sifatnya tidak terbatas. Segala sesuatu seperti yang bisa diamati oleh manusia yang berakal, pasti ada yang menciptakan. Segala sesuatu yang diciptakan tersebut/makhluk sifatnya lemah, memiliki kekurangan, terbatas, dan saling membutuhkan. Hal ini berbeda dengan khaliq/pencipta. Oleh karenanya siapapun yang berakal sesungguhnya dapat memahami dan membuktikan hakikat keberadaan sang khaliq melalui ciptaannya. Sebab apa? Manusia memiliki keterbatasan, dia hanya dapat mengamati apa yang bisa diinderanya, dan melibatkan akalnya untuk memahami. Sehingga untuk memahami keberadaan Allah pun cukup hanya dengan memperhatikan ciptaannya. Sebagai contoh adalah mengamati penciptaan alam semesta, bagaimana bumi ini dihamparkan, langit ini di tegakan tanpa tiang, atau bahkan dengan memperhatikan dirinya sendiri. Bagaimana Allah telah menciptakan manusia, aliran darahnya, detak jantungnya, dan lain sebagainya. Semua itu menggambarkan kebesaran Allah bahwa ia adalah sang khaliq yang azali dan wajibul wujud. Dengan begitulah islam mengajak manusia merenungi dan mengamati benda-benda atau apa yang ada di sekeliling manusia yang merupakan karya Allah alih-alih membahas sesuatu yang sifatnya ghaib yang tidak ada wujudnya dan tidak bisa dibuktikan dan tidak dapat diindera oleh manusia. Namun demikian, muncul suatu pertanyaan. Bukankah Allah itu juga ghaib atau tidak dapat diindera wujudnya, lalu apakah kalau demikian keberadaan Allah ada? Insyaallah pembahasan mengenai ini akan saya lanjutkan pada topik selanjutnya.
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt