Bismillahirrohmanirrokhim...
Melanjutkan pembahasan pada halaqoh pertama mengenai
bagaimana merubah perilaku individu dan membentuk karakter seorang muslim, pada
pembahasan kali ini akan berusaha saya paparkan mengenai akidah. Sebagaimana
telah disebutkan bahwa islam laksana sebuah bangunan yang berpondasikan akidah,
menunjukan bahwa kedudukan dan peran akidah didalam islam teramat sangat
penting. Keindahan sebuah bangunan, kemegahan, ataupun tinggi menjulangnya
sebuah bangunan tidaklah akan bertahan dalam waktu yang lama terlebih manakala
goncangan, badai, ataupun terpaan angin berhembus mengarah padanya, manakala
pondasi bangunan tidak dibangun secara kokoh dan kuat. Ianya akan mudah goyah
dan bahkan bisa runtuh seketika. Begitulah kiranya gambaran akidah bagi seorang
muslim. Akidah menjadi landasan berpikir bagi setiap muslim dalam menyelesaikan
permasalahan-permasalahan cabang. Jika sebelumnya telah dijelaskan bahwa akidah
dapat diperoleh melalui suatu proses berpikir cemerlang yang melibatkan akal
manusia, tentunya setiap manusia sesungguhnya memiliki kesempatan ataupun
peluang yang sama untuk bisa menemukan kebenaran. Dimana kebenaran tersebut
adalah kebenaran islam yang menuntunnya melalui jalan keimanan. Adapun dalam
suatu proses berpikir cemerlang tersebut, seseorang harus bisa menemukan
jawaban atau pemecahan masalah dari tiga rumusan masalah atau tiga pertanyaan
besar yang merupakan problematika pokok dalam kehidupan ini. Problematika
tersebut meliputi darimana kita berasal? Untuk apa kita didunia/tujuan hidup
kita di dunia? Dan kemana kita setelah mati?. Diluar dari tiga permasalahan ini
sesungguhnya apa yang dihadapi manusia adalah permasalahan cabang atau
permasalah turunan yang apabila ia telah berhasil memecahkan problematika pokok
tersebut niscaya dia dapat pula mengatasi berbagai permasalahan cabang. Lalu
apa saja permasalahan cabang itu? Misalnya saja masalah ekonomi, kesehatan yang
buruk/ penyakit yang mendera seseorang, gagal menikah misalnya, masalah hutang,
perselisihan, bangkrut ketika mempunyai usaha, kehilangan/ kematian, dan lain
sebagainya. Sekali lagi, permasalahan ini tidak akan ada artinya jika anda
berhasil memecahkan problematika pokok tersebut.
Ketika seseorang sedang kebingungan mencari tau jati
dirinya sebagai manusia, khususnya mereka yang tidak terpuaskan akan kehidupan
duniawi, haus akan kedamaian dan ketenangan jiwa, atau sebaliknya ketika
manusia mulai frustasi dengan peliknya problematika kehidupan, lelah dikejar
oleh tuntutan duniawi, dari mulai gaya hidup hingga hingar bingar dunia yang melenakan,
mengejar rupiah demi rupiah, mengumpulkan aset dan kekayaan material, memuaskan
nafsu dari mulai urusan perut, sex, dan haus kekuasaan, ternyata semua itu
membuatnya semakin terpuruk dan dilanda depresi berat, kian lama kian mencekik
leher dan seolah kematian menjadi terasa lebih baik, manusia manusia ini pun
mulai galau akan kehidupan yang dijalani. Siapa dirinya, tujuan hidupnya,
pertanyaan semacam ini setiap saat meraung bagaikan demonstrasi rakyat kecil
yang menuntut keadilan pada penguasa yang telah mengabaikan haknya. Tak kenal
lelah sebelum terpenuhi segala harapan dan tujuan. Dan demikianlah islam hadir
ditengah tengah manusia sebagai sistem aturan dari sang pencipta teruntuk ciptaannya
yakni melalui surat cintanya Al-quran al karim yang dibawa oleh seorrang Rasul
bernama Muhammad. Islam sebuah pedoman, sebuah solusi bagi problematika
manusia. Namun demikan, bagi manusia yang tengah berusaha dalam pencarian
terhadap kebenaran ini, tentu tidak serta merta mempercayai bahwa islam itu
adalah pedoman yang benar, petunjuk yang dicarinya. Olehkarenanya, walaupun seorang
bisa saja memperoleh keislaman melalui hidayah yang tidak disangka dan tidak
terduga, amat sangat penting bagi setiap individu beserta para muslim untuk menggali
dan memikirkan dengan benar bahkan bila perlu membuktikan kebenaran islam yakni
melalui cara berpikir yang cemerlang. Sehingga bagi yang telah muslim pun keimanannya
itu kokoh, akidahnya kuat, bukan sekedar islam KTP yang bahkan angin
sepoi-sepoipun dapat menghempaskannya. Islam tidak takut untukdiuji
kebenarannya karena nyatanya memang sudah teruji. Bahkan di dalam islam,
manusia ditantang untuk berpikir. Menggunakan akalnya. Karena dengan berpikir,
dia akan beriman. Tapi ingat, berpikir yang dimaksud adalah berpikir cemerlang,
bukan berpikir dangkal atau sekedar mendalam.
Islam mampu memecahkan problematika pokok karena islam (1)
aturan ataupun ajaran di dalam islam sesuai dengan fitrah manusia. Maksudnya
adalah islam mampu memahami apa yang menjadi kebutuhan manusia. Manusia memiiki
gharizah atau naluri yang apabila tidak diatur dengan baik maka akan
menimbulkan permasalahan dan kekacauan. Misalnya saja soal hukum menikah di
dalam islam, islam memahami bahwa setiap manusia memiliki nafsu dan keinginan
terhadap lawan jenisnya/ apa yang disebut dengan kebutuhan batin/seksual, maka
menikah didalam islam adalah merupakan sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah
dan ia bernilai ibadah dan berpahala. Sehingga tidak mungkin islam melarang
seseorang untuk menikah, yang ada adalah islam mengatur hukum nikah itu agar
bisa dijalankan dengan sebaik-baiknya dan tidak menimbulkan kekacauan. Sehingga
didalam islampun hak suami dan istri diatur dengan jelas. Inilah salahsatu fungsi
dan peran islam sebagai pedoman dan panduan bertindak dalam kehidupan ini. Dan
silahkan dibuktikan apakah aturan di dalam islam ini dapat menyelesaikan
masalah atau tidak.
Yang selanjutnya adalah (2) islam memuaskan akal. Seperti
yang kita ketahui bahwa yang membedakan manusia dari makhluk Allah lainnya
adalah akalnya, dimana akalnya tersebut menjadikan penciptaan manusia itu
paling sempurna. Orang yang berakal dan tidak berakal tentu sangat jauh berbeda
segala tindak tanduk perbuatannya. Orang yang berakal artinya dia memfungsikan
akalnya untuk berfikir sebelum melakukan tindakan, misalnya dia akan menimbang
baik buruknya, manfaat dan kerugiannya, tujuan atau alasannya sebelum dia
melakukan sesuatu. Segala sesuatunya dicari dahulu kebenarannya, apakah bisa
diterima oleh akal atau tidak, logis atau tidak, sesuaikah dan lain sebagainya.
Lain halnya dengan orang yang tidak menggunakan akalnya, perbuatannya cenderung
sekedar ikut-ikutan, melakukan sesuatu yang tidak ada dasar atau landasan yang
benar, asal-asalan, karena dia tidak memikirkan perbuatannya. Lihatlah orang
gila, orang yang kehilangan akalnya. Orang yang tidak menggunakan akalnya
hampir sama dengan orang yang kehilangan akal. Kondisinya pun bisa terliat
jelas bedanya dengan yang menggunakan akalnya. Aturan di dalam islam tidak
bertentangan dengan akal, justru menuntut seseorang menggunakan akalnya guna
memahami aturan Allah swt, sebab didalam aturan yang Allah tetapkan pasti
tersimpan tujuan atau hikmah tertentu yang terkadang bahkan akal manusia belum
bisa menjangkau. Belum menjangkau bukan berarti tidak masuk akal. Sesuatu yang
tidak masuk akal itu tidak bisa dicerna oleh akal/ tertolak akal, sedangkan
tidak terjangkau akal dikarenakan ilmu manusia teramat terbatas apalagi dibandingkan dengan ilmu Allah, ilmu Allah
maha luas. Hal ini logis. Masuk di akal. Beberapa ilmu yang terdapat dalam
al-quran telah terunggkap melalui ilmu pengetahuan yang bahkan diungkap oleh
orang kafir, dan tidak sedkit diantara mereka yang takjub dengan al-quran
kemudian memperoleh hidayah dan akhirnya memeluk agama islam. Inilah contoh
berpikir islam. Namun demikian masih banyak lagi ilmu di dalam al-quran yang
belum terungkap oleh kemampuan dan indera manusia dikarena keterbatasannya.
Kemudian yang terakhir (3) islam memberikan ketentraman kedalam jiwa. Ketentraman disini sebenarnya secara logis
pasti dapat dirasakan manakala seseorang menerapkan syariat islam sebab islam
terbukti dapat mengatur dan memuliakan manusia melalui aturannya. Sebagai
contoh adalah aturan mengenakan jilbab. Melalui proses berpikir dan menganalisa
tujuan jilbab diwajibkan terhadap para muslimah adalah agar dia terlindungi dan
tidak diganggu, serta mudah untuk dikenali sebagaimana yang tertera dalam
firman Allah QS. Al-ahzab ayat 59 merupakan sesuatu yang masuk akal. Adapun soal
ketentraman, coba bandingkan dengan wanita yang memilih mengumbar auratnya
dengan berpakaian seksi, reksi setiap orang yang melihat kedua jenis gaya
berpakaian ini sangat berbeda jauh. Bahkan mereka yang berpakaian seksi lebih
sering digoda dan bahkan dilecehkan oleh
para lelaki hidung belang. Sebaliknya mereka enggan menggoda muslimah yang
menutup auratnya. Sehingga wanita yang berpakaian syar’i pun akan merasa aman
dan dia lebih menjaga segala tindakannya, sebab jilbabnya bisa menjadi semacam
alarm atau pengingat baginya untuk tunduk kepada perintahNya. Namun demikian
bukan berarti jilbab dan akhlaq merupakan
sesuatu yang saling mempengaruhi. Ketika orang yang tidak berjilbab selalu
lebih buruk akhlaqnya daripada yang berjilbab, atau yang berjilbab selalu lebih
baik dari yang tidak berjilbab. Tidaklah demikian. Akan tetapi, jilbab dan
akhlaq adalah dua hal yang sama-sama harus dijalankan berdasarkan ketentuanNya.
Dan perlu diingat bahwa jilbab itu wajib hukumnya bagi setiap muslimah, mau dia
sudah baik akhlaqnya ataupun masih buruk. Mau dia siap atau tidak. Tetap wajib
hukumnya, dan yang meninggalkannya berdosa tanpa terkecuali.
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt