Ternyata bulan september 2014 lalu saya masih belum bisa
menyabet gelar sarjana strata satu jurusan ilmu adminstrasi negara. September lalu
itu adalah genap 4 tahun saya menyandang status sebagai mahasiswa, dan
nampaknya belum ada kepastian kapan saya akan segera hengkang dari kampus
oranye, alias fakultas ilmu sosial dan politik tempat saya menimba ilmu. Besar harapan
kedua orangtua saya agar pada desember nanti sekeluarga bisa datang berkumpul
di auditorium Widyatama Purwokerto demi selebrasi wisuda saya. Kalo saya
pribadi? Saya juga sangat ingin sekali segera lulus dan segera memindah
halauankan konsentrasi saya kepada serentet cita-cita atau sekedar rencana
jangka pendek yang tak sabar ingin disambut. Entah itu bekerja, meningkatkan
kapasitas diri, atau apapun itu.. yaa walaupun tetap yang jadi primadonanya
adalah mencari kerja atau lebih tepatnya mungkin adalah nyari duit. Bantuin orangtua.
At least berhenti merepotkan dan menjadi beban orangtua.
Sekarang sudah 25 september... rasanya waktu itu laksana berlari begitu kencangnya hingga semuanya serasa menjadi terlalu singkat. Sampai-sampai posisi saya jadi terasa terpojok saja kian hari. Kenapa? Hari ini saya sudah mulai bisa penelitian, semakin sering melihat kalender, semakin membagi-bagi sisa waktu untuk serangkaian proses yang tersisa sampai sebelum november berlalu. Dan semua itu seolah melesatkan pikiran saya pada satu pertanyaan bombastis mungkin ga ya saya lulus desember nanti? Mewujudkan harapan kedua orangtua saya? Menyandang gelar S,sos ? Ohh my God.... saya belum patah semangat kok. tapi, saya benar-benar sedang men ‘drill’ hati saya dengan segudang pertanyaan moril yang selama saya kuliah seringnya saya abaikan. Yaitu apakah yang saya lakukan ini, sebagaimana doa yang saya munajatkan kepada Allah SWT bahwa saya memohon agar diberikan ilmu yang bermanfaat? Sebab saya khawatir jikalau tujuan saya hanya ingin mencari gelar semata, padahal saya bukannya tidak paham kelak bagaimana kerasnya kehidupan pasca kampus. kehidupan yang amat menuntut manusia tidak sekedar punya gelar trus hidupnya bakalan enak. Bukan sekedar dia ngampus dimana, pernah seberapa populer di kampusnya, apalagi kalau sepanjang kuliahnya ternyata Cuma jadi mahasiswa “kupu-kupu” kuliah-pulang. Ups... curcol. Tapi saya tidak menyesali keputusan saya saat itu, sebab saat itu saya punya alasan yang kuat mengapa saya sering pulang kampung heheh :D... back to the topic, mungkin ada hikmahnya juga kalau Allah ternyata memilih menunda kelulusan saya, walaupun sebenarnya saya saat itu memulai menyusun skripsi itu bisa dibilang cukup awal dibandingkan yang senormalnya. Mungkin karena Allah ingin saya lebih banyak merenungi, lebih banyak menyiapkan mental ketika gelar itu pada akhirnya ngintil dibelakang nama saya. Jujur bisa saya bayangkan semua itu akan membawa beban moril kepada diri saya pribadi bahkan tidak menutup kemungkinan keluarga saya pun akan merasakan beban moril itu juga. Ah , kan S1 itu udah banyak kali dimana-mana, jadi kan itu soal biasa? Saking banyaknya, lulusan S1 tidak bisa terakomodir oleh banyaknya lapangan kerja yang ada. Eh, tapikan ga mesti harus jadi jobseeker juga, kalo bisa malah sarjana itu harusnya bisa menciptakan lapangan kerja sendiri, seperti misalnya dengan berwirausaha. Iya sih, tapi memangnya kita itu mau menghadapi hidup itu bareng-barenga? Pada akhirnya segala konsekuensi akan menjadi tanggungjawab masing-masing. Olehkarenanya menjadi seorang sarjana itu butuh kesiapan. Oke skip, balik lagi ke rumusan masalah saya tadi, mungkinkah saya bisa lulus bulan desember nanti? Tapi saya berfikir, kapan saja kelulusan itu akan terjadi Tuhan pasti sudah mengaturnya. Olehkarenanya, doa saya yang paling kenceng itu adalah supaya Allah SWT berkenan menjaga hati saya supaya dihujani dengan semangat luarbiasa melawan rasa malas dan putus asa karena terus terang tiada yang lebih berbahaya kecuali diri sendiri kan? dan harapan saya pula segala perjuangan akhir saya ini mengantarkan saya pada sebuah kemurnian niat. Niat yang tulus mengharapkan keridhoanNya untuk mengaruniakan saya ilmu yang bermanfaat. So, Bukankah menyusun skripsi ini akan menjadi sebuah tiket jihad fii sabilillah yang pahalanya luar biasa? Masyaallah.... luruskan niat sebagai seorang penuntut ilmuNya. Ilmu yang menuntun kepada Jannah yang dirindukan. Terus dan terus langkahkan kaki dalam ikhtiar yang tak tercerai dari untaian doa.
Sekarang sudah 25 september... rasanya waktu itu laksana berlari begitu kencangnya hingga semuanya serasa menjadi terlalu singkat. Sampai-sampai posisi saya jadi terasa terpojok saja kian hari. Kenapa? Hari ini saya sudah mulai bisa penelitian, semakin sering melihat kalender, semakin membagi-bagi sisa waktu untuk serangkaian proses yang tersisa sampai sebelum november berlalu. Dan semua itu seolah melesatkan pikiran saya pada satu pertanyaan bombastis mungkin ga ya saya lulus desember nanti? Mewujudkan harapan kedua orangtua saya? Menyandang gelar S,sos ? Ohh my God.... saya belum patah semangat kok. tapi, saya benar-benar sedang men ‘drill’ hati saya dengan segudang pertanyaan moril yang selama saya kuliah seringnya saya abaikan. Yaitu apakah yang saya lakukan ini, sebagaimana doa yang saya munajatkan kepada Allah SWT bahwa saya memohon agar diberikan ilmu yang bermanfaat? Sebab saya khawatir jikalau tujuan saya hanya ingin mencari gelar semata, padahal saya bukannya tidak paham kelak bagaimana kerasnya kehidupan pasca kampus. kehidupan yang amat menuntut manusia tidak sekedar punya gelar trus hidupnya bakalan enak. Bukan sekedar dia ngampus dimana, pernah seberapa populer di kampusnya, apalagi kalau sepanjang kuliahnya ternyata Cuma jadi mahasiswa “kupu-kupu” kuliah-pulang. Ups... curcol. Tapi saya tidak menyesali keputusan saya saat itu, sebab saat itu saya punya alasan yang kuat mengapa saya sering pulang kampung heheh :D... back to the topic, mungkin ada hikmahnya juga kalau Allah ternyata memilih menunda kelulusan saya, walaupun sebenarnya saya saat itu memulai menyusun skripsi itu bisa dibilang cukup awal dibandingkan yang senormalnya. Mungkin karena Allah ingin saya lebih banyak merenungi, lebih banyak menyiapkan mental ketika gelar itu pada akhirnya ngintil dibelakang nama saya. Jujur bisa saya bayangkan semua itu akan membawa beban moril kepada diri saya pribadi bahkan tidak menutup kemungkinan keluarga saya pun akan merasakan beban moril itu juga. Ah , kan S1 itu udah banyak kali dimana-mana, jadi kan itu soal biasa? Saking banyaknya, lulusan S1 tidak bisa terakomodir oleh banyaknya lapangan kerja yang ada. Eh, tapikan ga mesti harus jadi jobseeker juga, kalo bisa malah sarjana itu harusnya bisa menciptakan lapangan kerja sendiri, seperti misalnya dengan berwirausaha. Iya sih, tapi memangnya kita itu mau menghadapi hidup itu bareng-barenga? Pada akhirnya segala konsekuensi akan menjadi tanggungjawab masing-masing. Olehkarenanya menjadi seorang sarjana itu butuh kesiapan. Oke skip, balik lagi ke rumusan masalah saya tadi, mungkinkah saya bisa lulus bulan desember nanti? Tapi saya berfikir, kapan saja kelulusan itu akan terjadi Tuhan pasti sudah mengaturnya. Olehkarenanya, doa saya yang paling kenceng itu adalah supaya Allah SWT berkenan menjaga hati saya supaya dihujani dengan semangat luarbiasa melawan rasa malas dan putus asa karena terus terang tiada yang lebih berbahaya kecuali diri sendiri kan? dan harapan saya pula segala perjuangan akhir saya ini mengantarkan saya pada sebuah kemurnian niat. Niat yang tulus mengharapkan keridhoanNya untuk mengaruniakan saya ilmu yang bermanfaat. So, Bukankah menyusun skripsi ini akan menjadi sebuah tiket jihad fii sabilillah yang pahalanya luar biasa? Masyaallah.... luruskan niat sebagai seorang penuntut ilmuNya. Ilmu yang menuntun kepada Jannah yang dirindukan. Terus dan terus langkahkan kaki dalam ikhtiar yang tak tercerai dari untaian doa.
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt