Interaksi merupakan suatu kebutuhan bagi manusia yang notabene adalah
makhluk sosial. Manusia tidak bisa hidup seorang diri dikarenakan segala
keterbatasan yang dimiliki olehnya dan olehkarenanya dia akan selalu
membutuhkan bantuan oranglain sekalipun dia merasa bahwa dirinya kuat ataupun
hebat. Begitu pula ketika manusia ditempa oleh berbagai persoalan duniawi yang
seringkali membuat seseorang bahkan dapat terserang depresi ketika
menghadapinya. Ketika dia menghadapi permasalahannya seorang diri tentu
tidaklah akan sama ketika dia memikiki seseorang lain yang turut membantu dalam
menyelesaikan persoalannya tersebut. Sebagaimana sebuah kata bijak yang
mengatakan “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”, ini merupakan gambaran
bahwa suatu kebersamaan dan kerjasama akan dapat meminimalisir beban yang
dipikul sebesar apapun itu. Sebagaimana pula sebuah kisah sebatang lidi yang
mudah dipatahkan menjadi sangat sukar dipatahkan ketika sapu lidi tersebut
bersatu dalam sebuah ikatan dengan lebih banyak sapu lidi lainnya. Kesendirian adalah
sesuatu yang membahayakan. Namun bukanlah kesendirian seseorang yang belum
menemukan tambatan hati yang saya maksud. Bukan mereka yang masih jomblo dan
belum menikah. Hal ini jelas berbeda sebab urusan jodoh adalah urusan yang
telah diatur oleh Allah SWT, sehingga justru ketika seseorang memilih menjaga
kesucian dirinya dengan menyendiri atau tidak berpacaran ketika belum bertemu
dengan jodohnya, ini merupakan suatu kebaikan yang semestinya menjadi pilihan
yang dijalani dengan sebaik-baiknya. Kesendirian yang berbahaya itu adalah
manakala seseorang ditimpa kesulitan atau kesedihan, namun dia memilih untuk
memendamnya seorangdiri atau ingin menghadapinya seorang diri, padahal ketika
itu dirinya menyadari batas kekuatannya telah dilampauinya. Hal inilah yang
seringkali menjadi penyakit yang disebut stress atau depresi apabila terus saja
dibiarkan tanpa berusaha untuk keluar dari situasi dan tekanan yang
menghimpitnya. Stress atau depresi berat dapat menimbulkan keputusasaan dan
terlepasnya keimanan seseorang dikarenakan kehilangan akal sehat dan nalarnya,
bahkan dapat mengancam eksistensi seseorang. Allah memang tidaklah menguji
hambanya diluar batas kemampuannya. Dan saya pun sepakat bahwa sesudah
kesulitan ada kemudahan. Namun, bukan berarti kita harus menghadapi
permasalahan kita seorang diri. Kecuali jika memang kita yakin bahwa kita dapat
menghadapinya seorang diri, tidak mengapa jika menyimpannya sendiri. Karena dalam
kesulitan atau keluhan yang dirahasiakan sesungguhnya juga terdapat keutamaan berupa pahala dari Allah SWT. Jadi bagaimana
kita bisa memahami batasan dalam diri kita? Memahami batasan diri bukan
diartikan membatasi kekuatan pada diri seseorang, melainkan apabila dicermati
dari firman Allah bahwa ‘Dia tidak menguji hambanya diluar batas kemampuannya’
sesungguhnya merupakan sebuah sinyal bahwa ‘berjamaah’ juga merupakan sebuah
solusi. ‘berjamaah’ sebagai suatu ajaran dan pesan mendalam dari ibadah sholat
berjamaah sebenarnya wujud dan gambaran sifat fitrah manusia sebagai makhluk
sosial. Jika sendiri kita merasa tidak mampu, sesungguhnya berjamaah atau yang
saya maksud adalah menghadapinya secara bersama merupakan suatu solusi bagi
manusia yang senantiasa berpikir. Akal sebagai kekuatan manusia, dan berpikir
sebagai kemampuan manusia. Manusia yang berpikir akan memanfaatkan segala
potensi yang ada disekitarnya, termasuk memanfaatkan kehadiran oranglain untuk
bisa membantu kita dalam menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi. Curhat
kepada Allah memang suatu hal yang baik dan tepat karena tidak ada kekuatan
yang mampu menolong kita kecuali kekuatanNya. Namun, saya menilai berbagi keluh
kesah atau curhat kepada seseorang juga bukanlah hal yang salah jika dilakukan
dengan cara yang baik. Jika curhat yang kita lakukan kepada orang yang tepat,
orang yang kita anggap bijak dan dapat memberikan solusi ataupun motifasi baik
moril maupun materiil, insyaallah ini
akan menjadi jalan keluar pula dan dapat meringankan beban yang kita
miliki. Seringkali seseorang pandai
memberikan solusi bagi masalah oranglain meskipun kadang dia tidak bisa
menyelesaikan masalahnya sendiri. Motivasi dan kekuatan terkadang juga muncul
jika kita bersama dengan orang yang dirasa lebih lemah atau sedang rapuh
dibanding dengan dirinya sendiri. Oleh karena itulah saat memberi solusi kepada
masalah oranglain terasa lebih mudah, sedangkan ketika menghadapi masalah
sendiri kadang akal pikiran kita yang sedang kalut menutupi hati dari solusi yang
sebenarnya mungkin hal mudah jika dilihat dari kacamata orang lain yang
notabene sedang diluar tekanan dan dalam kondisi pikiran yang lebih tenang
sehingga dapat berpikir lebih jernih. Itulah mengapa seseorang perlu untuk
saling menasehati dan saling memotifasi satu sama lain. Karena manusia memang
memiliki banyak kekurangan, dan dari sinergi serta kerjasama sebagai makhluk
sosial tersebut akan menjadi solusi yang baik. Inilah yang saya nilai sebagai
pemaknaan maksud Allah tentang “batas kemampuan manusia”. Manusia mampu bukan
berarti dia seorang diri menghadapinya melainkan kembali kepada fitrahnya
sebagai makhluk sosial dan juga pesan dari ajaran dan keutamaan sholat
berjamaah.
Ditulis oleh : Unknown
Tuesday, 12 May 2015
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt [ Read More... ]